FRAKTUR

  1. DEFINISI

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Syamsuhidayat. 2004: 840).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddarth. 2001 : 2357).

Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas tulang karena stress pada tulang yang berlebihan (Luckmann and Sorensens, 1993 : 1915)

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. (Price and Wilson, 1995 : 1183)

Fraktur menurut Rasjad (1998 : 338) adalah hilangnya konstinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial.

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan dari tulang itu sendiri dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap, tidak lengkap. (Arice, 1995 : 1183)

Patah tulang adalah terputusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan.(Oswari, 2000 : 144)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Mansjoer, 2000 : 42)

Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999 : 1138).

Jadi berdasarkan pengertian diatas  fraktur  adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan

  1. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TERKAIT

Kecelakaan lalu lintas sering sekali terjadi di negara kita, khususnya di kota ini. Ratusan orang meninggal dan luka-luka tiap tahun karena peristiwa ini. Memang di negara ini, kasus kecelakaan lalu lintas sangat tinggi. Kecelakaan lalu-lintas merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia, setelah penyakit jantung dan stroke. Menurut data kepolisian Republik Indonesia Tahun 2003, jumlah kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kejadian, dengan kematian mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat, dan 8.694 mengalami luka ringan. Dengan data itu, rata-rata setiap hari, terjadi 40 kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 30 orang meninggal dunia. Adapun di Sulawesi Selatan, jumlah kecelakaan juga cenderung meningkat di mana pada tahun 2001 jumlah korban mencapai 1717 orang, tahun selanjutnya 2.277 orang, 2003 sebanyak 2.672 orang. Tahun 2004, jumlah ini meningkat menjadi 3.977 orang. Tahun 2005 dari Januari sampai September, jumlah korban mencapai 3.620 orang dengan korban meninggal 903 orang. Trauma yang paling sering terjadi dalam sebuah kecelakaan adalah fraktur (patah tulang). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar, dan fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar. Secara umum, fraktur terbuka bisa diketahui dengan melihat adanya tulang yang menusuk kulit dari dalam, biasanya disertai perdarahan. Adapun fraktur tertutup, bisa diketahui dengan melihat bagian yang dicurigai mengalami pembengkakan, terdapat kelainan bentuk berupa sudut yang bisa mengarah ke samping, depan, atau belakang. Selain itu, ditemukan nyeri gerak, nyeri tekan, dan perpendekan tulang. Dalam kenyataan sehari-hari, fraktur yang sering terjadi adalah fraktur ekstremitas dan fraktur vertebra. Fraktur ekstremitas mencakup fraktur pada tulang lengan atas, lengan bawah, tangan, tungkai atas, tungkai bawah, dan kaki. Dari semua jenis fraktur, fraktur tungkai atas atau lazimnya disebut fraktur femur (tulang paha) memiliki insiden yang cukup tinggi. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. (http://id.wikipedia.org/wiki/fraktur)

  1. ANATOMI – FISIOLOGI ORGAN TERKAIT

Komponen Utama dari Sistem Muskuloskeletal adalah jaringan Ikat terdiri dari:

  1. Tulang
  2. Sendi
  3. Otot Rangka
  4. Ligamen
  5. Tendon
  6. Bursa dan jaringan jaringan khusus yang menghubungkan struktur struktur ini.
  1. TULANG

Tulang atau kerangka adalah penopang tubuh manusia. Tanpa tulang, pasti tubuh kita tidak bisa tegak berdiri. Tulang mulai terbentuk sejak bayi dalam kandungan, berlangsung terus sampai dekade kedua dalam susunan yang teratur.

Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan dan oto penyususn kurang lebih 50%. Kesehatan dan fungsi sistem muskuloskletal sangat tergantung pada sitem tubuh yang lain. Struktur tulang memberi perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung, dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk menyangga struktur tubuh. Otot yang merekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak. Pembagian skeletal, yaitu:

  1. Axial skleton terdiri dari kerangka tulang kepala dan leher, tengkorak, kolumna vertebrae, tulang iga, tulang hioid sternum.
  2. Apindikular skleton terdiri dari:
    1. Kerangka tulang lengan dan kaki
    2. Ekstremitas atas (skaula, klavikula, humerus, ulna, radial) dan tangan (karpal, metakarpal, falang)
    3. Ekstremitas bawah ( tulang pelvik, femur, patela, tibia, fibula) dan kaki (tarsal, metatarsal, falang).
  1. Pertumbuhan Tulang

Pertumbuhan tulang selengkapnya terbentuk pada umur lebih kurang 30 tahun. Pertumbuhan dan metabolisme tulang dipengaruhi oleh sejumlah mineral dan hormon yang meliputi:

1)   Kalsium dan fosfor. Jumlah kalsium (Ca) dalam tulang 99% dan fosfor 90%. Konsetrasi kalsium dan fosfor mempunyai ikatan yang erat. Jika kadar Ca meningkat, jumlah fosfor berubah. Keseimbangan kalsium dan fosfor dipertahan kan oleh kalsitonin dan hormon paratiroid (PTH).

2)   Kalsitonin di peroduksi oleh kelenjar tiroid dan menurunkan kontrasi Ca serum, jika jumlah kalsitonin meningkat diatas normal, kalsitonin menghambat absorpsi kalsium dan fosfor dalam tulang serta meningkatkan ekskresi kalsium dan fosfor melalui urine sehingga dibutuhkan Ca dan fosfor.

3)   Vititamin D terkandung dalam lemak hewan, minyak ikan dan mentega. Tubuh manusia juga menghasilkan vitamin D. sinar ultraviolet sinar matahari dapat mengubah ergosterol pada kulit menjadi vitamin D. vitamin D diperlukan agar kalsium dan fosfor dapat diabsorpsi dari usus dan digunakan tubuh. Defisiensi vitamin D mengakibatkan defosot mineralisasi, deformitas, patah tulang, penyakit rikets pada anak-anak, dan osteomalasia pada orang dewasa.

4)   Hormon paratiroid (PTH) pada saat kadar Ca menurun, sekresi PTH meningkat dan menstimulasi tulang untuk meningkatkan aktivitas osteoblastik dan menyumbangkan kalsium ke darah. Jika kadar Ca meningkatkan sekresi PTH diminimalkan, hormon tersebut meningkatkan ekskresi di ginjal dan memfasilitasi absorpsinya dari usus halus. Hal ini mempertahankan suplai Ca ditulang. Respon ini merupakan respon contoh umpan balik sistem loop yang terjadi dalam sistem endokrin.

5)   Hormon pertumbuhan. Hormon pertumbuhan yang bertanggung jawab meningkatkan panjang tulang dan menentukan jumlah matriks tulang dibentuk sebelum masa pubertas. Sekresi yang meningkat selama masa kanak-kanak menghasilkan gigantisme dan menurunnya sekresi menghasilkan dwarfisme. Pada orang dewasa, ppeningkatan tersebut meningkatkan akromegali yang ditandai oleh kelainan bentuk tulang dan jaringan lunak.

6)   Glukokortikoid, hormon glukokortikoid mengatur metabolisme protein. Pada saat dibutuhkan, hormon dapat meningkatkan atau menurunkan katabolisme untuk mengurangi atau mengitensifkan matriks organik di tulang dan membantu dalam mempengaruhi kalsium di intestinum dan fosfor.

7)   Hormon seksual. Ada dua hormon yang berperan yaitu hormon estrogen dan androgen. Hormon estrogen menstimulasi aktifitas osteoblastik dan cenderung menghambat peran hormon paratiroid, jumlah etrogen menurun saat menopause sehingga penurunan kadar kalsium pada tulang dalam waktu lama menyebabkan osteoporosis. Sedangkan hormon androgen seperti testostero, meningkatkan anabolisme dan massa tulang.

  1. Jenis Tulang
    1. Berdasarkan jaringan penyusun dan sifat-sifat fisiknya tulang dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
      1. Tulang Rawan (Kartilago)

Tulang rawan adalah tulang yang tidak mengandung pembuluh darah dan saraf kecuali lapisan luarnya (perikondrium). Tulang rawan memiliki sifat lentur karena tulang rawan tersusun atas zat interseluler yang berbentuk jelly yaitu condroithin sulfat yang didalamnya terdapat serabut kolagen dan elastin. Maka dari itu tulang rawan bersifat lentur dan lebih kuat dibandingkan dengan jaringan ikat biasa.

Pada zat interseluler tersebut juga terdapat rongga-rongga yang disebut lacuna yang berisi sel tulang rawan yaitu chondrosit.

2). Tulang Keras (Osteon)

Ada empat jenis tulang, yaitu tulang panjang, tulang pendek, tulang pipih dan tulang tidak beraturan.

  1. Tulang panjang

Tulang panjang misalnya( femur, humerus ) bentuknya silinder dan berukuran panjang seperti batang (diafisis) tersusun atas tulang kompakta, dengan kedua ujungnya berbentuk bulat (epifisis) tersusun atas tulang kanselus. Tulang diafisis memiliki lapisan luar berupa tulang kompakta yang mengelilingi sebuah rongga tengah yang disebut kanal medula yang mengandung sumsum kuning. Sumsum kuning ini terdiri dari lemak dan pembuluh darah, tetapi suplai darah atau eritrositnya tidak begitu banyak. Tulang epifisis terdiri dari tulang spongiosa yang mengandung sumsum merah yang isinya sama seperti sumsum kuning dan di bungkus oleh selapis tipis tulang kompakta. Bagian luar tulang panjang dilapisi jaringan fibrosa kuat yang disebut periosteum. Lapisan ini kaya dengan pembuluh darah yang menembus tulang. Ada tiga kelompok pembuluh darah yang menyuplai tulang panjang, yang terdiri dari:

a)    Sejumlah tulang kecil menembus tulang kompakta untuk mnyupali kanal dan sistem Harvers.

b)   Banyak arteri lebih besar menembus tulang kompakta untuk mnyupai tulang spongiosa dan sumsum merah.

c)    Satu atau dua arteri besar mnyuplai kanal medula. Arteri ini dikenal sebagai arteri nutrein yang kemudian masuk melalui lubang besar pada tulang yang disebut foramen nutrien.

Periosteum memberikan nutrisi  tulang di bawahnya melalui pembuluh-pembuluh darah. Jika periosteum robek, tulang di bawahnya akan mati. Periosteum berperan untuk pertambahan ketebalan tulang melalui kerja osteoblas. Periosteum berfungsi protektif dan merupakan perlekatan tendon. Periosteum tidak ditemukan pada permukaan sendi. Di sini, periosteum digantikan oleh tulang rawan hialin (tulang rawan sendi).

  1. Tulang pendek

Tulang pendek misalnya: falang, karval, bentuknya hampir sama dengan tulang panjang , tetapi bagian distal lebih kecil daripada bagian proksimal, serta berukuran pendek dan kecil.

  1. Tulang pipih

Tulang pipih (misalny: sternum, kepala, skapula, panggul) bentunya gepeng, berisi sel-sel pembentuk darah, dan melindungi organ vital dan lunak dibawahnya. Tulang pipih terdiri dari dua lapisan tulang kampakta dan bagian tengahnya terdapat lapisan spongiosa. Tulang ini juga dilapisi oleh periosteum yang dilewati oleh dua kelompok pembuluh darah menembus tulang untuk mnyuplai tulang kompakta dan spongiosa.

4.  Tulang tidak beraturan

Tulang tidak beraturan (misalnya: vetrebra, telinga tengah) mempunyai bentuk yang unik sesuai fungsinya. Tulang tidak beraturan terdiri dari tulang spongiosa yang dibungkus oleh selapis tipis tulang kompakta. Tulang ini diselubungi periosteum, kecuali pada permukaan sendinya, seperti tulang pipih. Periosteum ini memberi dua kelompok pembuluh darah untuk menyuplai tulang kompakta dan spongiosa.

5.  Tulang sesamoid.

Tulang sesamoid (misalnya patela) merupakan tulang kecil yang terletak disekitar tulang yang berdekatan dengan pesendiaan, berkembang bersama tendon dan jaringan fasia.

  1. Srtuktur Tulang

Tulang tersusun oleh jaringan tulang kompakta (kortikal) dan kanselus (trabekular atau spongiosa). Tulang kompakta secara makroskopis terlihat padat, akan tetapi jika diperiksa dengan mikroskop terdiri dari sistem havers. Sistem Havers terdiri dari kanal harvers mengandung pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe, lamela (lempengan tulang yang mengelilingi kanal sentral), kaluna (ruang diantara lamela yang mengandung sel-sel tulang atau osteisot dan saluran limfe), dan kanalikuli (saluran kecil yang menghubungkan lakuna dan kanal sentral) saluran ini mengandung pembuluh limfe yang membawa nutrien dan oksigen ke osteosit. Tulang kanselus juga keras seperti kompakta, tetapi secara makroskopis terlihat berlubang-lubang (spons). Jika dilihat dengan mikroskop kanal Harvers, tulang kanselus terlihat lebih besar dan mengandung lebih sedikit lamela. Sel-sel penyusun tulang terdiri dari:

  1. Osteoblas berfungsi menghasilkan jaringan osteosid dan menyekresi sejumlah besar fospatase alkali yang berperan penting dalam pengendapan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
  2. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
    1. Osteoklas adalah sel-sel yang berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat di absorbpsi. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecah matriks dan beberapa asam yang mearutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas kedalam darah
  1. SENDI

Sendi merupakan hubungan antartulang sehingga tulang dapat digerakkan. Hubungan dua tulang disebut persendian (artikulasi).

Beberapa komponen penunjang sendi:

  • Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di bagian dalamnya terdapat rongga.
  • Ligamen (ligamentum) adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang yang saling membentuk persendian. Ligamentum juga berfungsi mencegah dislokasi.
  • Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang rawan yang menutupi kedua ujung tulang. Berguna untuk menjaga benturan.
  • Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi.

Macam-macam persendian

Ada berbagai macam tipe persendian:

·         Sinartrosis

Sinartrtosis adalah persendian yang tidak memperbolehkan pergerakan. Dapat dibedakan menjadi dua:

  • Sinartrosis sinfibrosis: sinartrosis yang tulangnya dihubungkan jaringan ikat fibrosa. Contoh: persendian tulang tengkorak.
  • Sinartrosis sinkondrosis: sinartrosis yang dihubungkan oleh tulang rawan. Contoh: hubungan antarsegmen pada tulang belakang.

·         Diartrosis

Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Dapat dikelempokkan menjadi:

  • Sendi peluru: persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah. Contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat.
  • Sendi pelana: persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah. Contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan.
  • Sendi putar: persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi). Contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas).
  • Sendi luncur: persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar. Contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki.
  • Sendi engsel: persendian yang memungkinkan gerakan satu arah. Contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta.

·         Amfiartosis

Persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan

  • Sindesmosis: Tulang dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligamen. Contoh:persendian antara fibula dan tibia.
  • Simfisis: Tulang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan yang berbentuk seperi cakram. Contoh: hubungan antara ruas-ruas tulang belakang.
  1. OTOT

Otot skeletal secara volunter dikendalikan oleh sistem syaraf pusat dan perifer. Penghubung antara saraf motorik perifer dan sel-sel otot dikenal sebagai motor end-plate. Otot dibagi dalam 3 kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan menghasilkan pergerakkan  sebagian atau seluruh tubuh. Kelompok otot terdiri dari:

  1. Otot rangka( lurik) diliputi oleh kapsul jaringan ikat. Lapisan jaringan ikat (serat-serat kolagen) yang membungkus otot disebut fasia otot atau episium. Otot ini terdiri dari berkas-berkas sel otot kecil (fansikulus) yang dibungkus lapisan jaringan ikat yang disebut perimisium. Sel otot ini dilapisi jaringan ikat yang disebut endomisium. Otot rangka merupakan otot yang mempunyai variasi ukuran dan bentuk dari panjang, tipis, sampai lebar dan datar.
  2. Otot viseral (polos) terdapat pada saluran pencernaan, saluran perkemihan, dan pembuluh darah. Otot ini dipersyarafi oleh sistem syaraf otonom dan kontraksinya tidak dibawah kontrol keinginan.
  3. Otot jantung ditemukan hanya pada jantung dan kontraksinya diluar keinginan (pengendalian). Otot berkontraksi jika ada rangsangan dari adenosin trifosfat (ATP) dan kalsium.

Fungsi otot skletal :

Fungsi otot skeletal adalah mengotrol pergerakan, mempertahankan  postur tubuh, dan menghasilkan panas.

  1. Eksitabilitas adalah kesangganggupan sel untuk menerima dan merespon stimulus. Stimulus biasanya dihantarkan oleh neurotransmiter yang dikeluarkan oleh neuron dan respon yang ditransmisikan dan dihasilkan oleh potensial aksi pada membran plasma dari sel otot.
  2. Kontraktibilitas adalah kesanggupan sel untuk merespon stimulus dengan memendek secara paksa.
  3. Ekstensibilitas adalah kesanggupan sel untuk merespon stimulus dengan memperpanjang dan memperpendek serat otot saat relaksasi ketika berkontraksi dan memanjang jika rileks.
  4. Elastisitas adalah kesanggupan sel untuk menghasilkan waktu istirahat yang lama setelah memendek dan memanjang.
  5. Ligamen

4.      STRUKTUR LAIN DALAM MUSKULOSKETAL

Ligamen adalah sekumpulan jaringan fibrosa yang tebal yang merupakan akhir dari suatu otot dan berfungsi mengikat suatu tulang.

  1. Tendon

Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrosa yang membungkus setiap otot dan berkaitan dengan perioustenum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon, khususnya pada pergelangan tangan dan tumit, pembungkus ini dibatasi oleh membran sinovial yang memberi lumbrikasi untuk memudahkan pergerakan tendon.

  1. Fasia

Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan langsung dibawah kulit sebagai fasia superfisial (sebagai pembungkus tebal) jaringan penyambung fibrosa yang membungkus otot, saraf, dan pembuluh darah.

  1. Bursae

Bursae adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung, yang digunakan di atas bagian yang bergerak (mis, antara kulit dan tulang, antara tendon dan tulang/otot). Bursae bertindak sebagai penampang antara bagian yang bergerak ( mis, bursae olekranon yang terletak diantara presesus dan kulit).

  1. ETIOLOGI

Penyebab fraktur diantaranya :

a. Trauma

1) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut. Contoh: tulang kaki terbentur bumper mobil

2) Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Contoh: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga.

b. Fraktur Patologis

Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain-lain.

c. Degenerasi

Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri : usia lanjut

d. Spontan

Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

  1. Cedera traumatic

Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :

1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.

2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.

3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.

  1. Fraktur Patologik

Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.

2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.

3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.

  1. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
  1. KLASIFIKASI FRAKTUR

Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

Berdasarkan sifat fraktur.

1).     Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.

2).     Fraktur Terbuka (Open/Compound),  bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.

Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.

1).     Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.

2).     Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:

a)         Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)

b)         Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.

c)         Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.

1).     Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.

2).     Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.

3).     Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.

4).     Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.

5).     Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.

Berdasarkan jumlah garis patah.

1)       Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.

2)       Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.

3)       Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.

Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.

1).     Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.

2).     Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:

a)         Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah  sumbu dan overlapping).

b)         Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).

c)         Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.

Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

  1. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.
  2. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
  3. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
  4. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.

(Apley, A. Graham, 1993, Handerson, M.A, 1992, Black, J.M, 1995, Ignatavicius, Donna D, 1995, Oswari, E,1993, Mansjoer, Arif, et al, 2000, Price, Sylvia A, 1995, dan Reksoprodjo, Soelarto, 1995)

  1. MANIFESTASI KLINIS
    1. Deformitas

Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :

a. Rotasi pemendekan tulang

b. Penekanan tulang

  1. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur
  2. Echumosis dari Perdarahan Subcutaneous
  3. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
  4. Tenderness/keempukan
  5. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
  6. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)
  7. Pergerakan abnormal
  8. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
  9. Krepitasià perabaan adanya udara pada lapisan bawah kulit (Black, 1993 : 199).
  1. PATOFISIOLOGI

Fraktur / patah tulang terjadi karena benturan tubuh, jatuh / trauma (long, 1996 : 356). Baik itu karena trauma langsung, misalnya : tulang kaki terbentur bumper mobil, karena trauma tidak langsung , misalnya : seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa oleh karena trauma akibat tarikan otot misalnya tulang patella dan dekranon, karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi. (Oswari, 2000 : 147).

Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. (Mansjoer, 2000 : 346).

Sewaktu tulang patah pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi pendarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati. (Corwin, 2000 : 299).

Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan pembekakan yang tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoksia mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan syndrom kompartemen. (Brunner & Suddarth, 2002 : 2287).

Pengobatan dari fraktur tertutup bisa konservatif atau operatif. Theraphy konservatif meliputi proteksi saja dengan mitella atau bidai. Imobilisasi dengan pemasangan gips dan dengan traksi. Sedangkan operatif terdiri dari reposisi terbuka, fiksasi internal dan reposisi tertutup dengan kontrol radio logis diikuti fraksasi internal. (Mansjoer, 2000 : 348).

Pada pemasangan bidai / gips / traksi maka dilakukan imobilisasi pada bagian yang patah, imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang agak cepat (Price & Willsen, 1995 : 1192).

Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi dari imobilisasi antara lain : adanya rasa tidak enak, iritasi kulit dan luka yang disebabkan oleh penekanan, hilangnya otot (Long, 1996 : 378).

Kurang perawatan diri dapat terjadi bila sebagian tubuh diimobilisasi, mengakibatkan berkurangnya kemampuan perawatan diri (Carpenito, 1999 : 346).

Pada reduksi terbuka dan fiksasi interna (OKIF) fragme-fragmen tulang dipertahankan dengan pen, sekrup, pelat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan terjadi infeksi. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi (Price & Willson, 1995 : 1192).

Pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot dan sendi dapat mengakibatkan nyeri yang hebat (Brunner & Suddarth, 2002 : 2304).

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. Foto Rontgen

Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur- secara langsung, Mengetahui tempat dan type fraktur. Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodic

  1. Skor tulang tomography, skor C1(cartilago), Mr1(cairan otot muskulus) : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
  2. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
  3. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple)
    Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma
  4. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).
  1. KOMPLIKASI
    1. a. Komplikasi awal

Komplikasi awal setelah fraktur adalah :

  • syok , yang bisa berakibat fatal setelah beberapa jam setelah cidera;
  • emboli lemak;
  • dan sindrom kompartemen yang bisa berakibat kehilangan fungsi ekstimitas permanen   jika tidak segera ditangani.

Komplikasi awal lainya yang berhubungan dengan fraktur adalah infeksi, tromboemboli, (emboli paru), dan juga koagulapati intravaskuler diseminata (KID)

  1. Komplikasi lambat

Komplikasi lambat yang dapat terjadi setelah fraktur dan dilakukan tindakan adalah :

  • Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan dapat dibantu dengan Stimulasi elektrik osteogenesis karena dapat mamodifikasi lingkungan jaringan membuat bersifat elektronegatif sehingga meningkatkan deposisi mineral dan pembentukan tulang.
  • Nekrosis evaskuler tulang terjadi bila tulang kehilangan asupan darah dan mati.
  • Reaksi terhadap alat fiksasi internal.
  • Deformitas ekstremitas
  • Perbedaan panjang ekstremitas
  • Keganjilan pada sendi
  • Keterbatasan gerak
  • Cedera saraf yang menyebabkan mati rasa
  • Perburukan sirkulasi
  • Ganggren
  • Kontraksi iskemik Volkmann
  • Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
  • Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
  • Non union : tulang yang tidak menyambung kembali
  1. Komplikasi lain:
  1. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN
  2. Fraktur Reduction
  • Manipulasi atau penurunan tertutup, manipulasi non bedah penyusunan kembali secara manual dari fragmen-fragmen tulang terhadap posisi otonomi sebelumnya.
  • Penurunan terbuka merupakan perbaikan tulang terusan penjajaran insisi pembedahan, seringkali memasukkan internal viksasi terhadap fraktur dengan kawat, sekrup peniti plates batang intramedulasi, dan paku. Type lokasi fraktur tergantung umur klien.
    Peralatan traksi :

o Traksi kulit biasanya untuk pengobatan jangka pendek

o Traksi otot atau pembedahan biasanya untuk periode jangka panjang.

  1. Fraktur Immobilisasi

Pembalutan (gips)

Eksternal Fiksasi

Internal Fiksasi

Pemilihan Fraksi

  1. Fraksi terbuka

Pembedahan debridement dan irigrasi

Imunisasi tetanus

Terapi

antibiotic prophylactic

Immobilisasi (Smeltzer, 2001).

Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :

a. Rekognisi

Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.

b. Reduksi

Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau blok saraf lokal.

c. Retensi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.

d. Rehabilitasi

Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.

Terapi Konservatif

– Proteksi saja

Misal mitella untuk fraktur collum chirorgicom homeri dengan kedudukan baik.

– Imobilisasi saja tanpa reposisi

Misal pemasangan gips pada fraktur incomplete dan fraktur dengan kedudukan baik.

– Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips

Misal pada fraktur supracondillus, fraktur collest, fraktur smith, reposisi dapat dalam anestesi umum / lokal.

– Traksi untuk reposisi secara perlahan

Pada anak-anak dipakai traksi kulit. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dengan beban kurang dari 5 kg.

Terapi Operatif

– Reposisi terbuka, fiksasi interna

Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi eksterna terapi operatif dengan reposisi anatomis diikuti dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation), artoplasti eksisional, eksisi fragmen dan pemasangan endoprostesus. ( Mansjoer, 2000 : 348 )

  1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Menurut Doenges, 2000 :761, Gejala-gejala fraktur tergantung pada sisi, beratnya, dan jumlah kerusakan pada struktur lain.

  1. Aktivitas / istirahat

Tanda : Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri)

  1. Sirkulasi
    Tanda : Hipertensi (kadang-kadang sebagai respons terhadap nyeri / ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah), takikardi (respon stress, hipovelemia) penurunan / tak ada nadi pada bagian distal yang cedera : pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian distal yang terkena pembekakan jaringan atau hematoma pada sisi cedera.
  2. Neurosensori
    Gejala : Hilang gerakan / sensasi, spasme otot, kesemutan
    Tanda : Deformitas lokal : angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas atau trauma lain).
  3. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terkolalisasi pada area jaringan) kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi) ; tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.

Spasme / kram otot (setelah imobilisasi)

  1. Keamanan
    Tanda : Laserasi kulit, ovulasi jaringam pendarahan, perubahan warna pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
  2. Penyuluhan / Pembelajaran

Menghindari Lingkungan yang berpotensi mengakibatkan cedera.

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).

Pre Operatif:

  1. Nyeri berhubungan dengan patah tulang/spasus otot, edema, dan/atau kerusakan jaringan lunak.
  2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya aliran darah akibat cedera.
  3. Potensial infeksi berhubungan dengan trauma tulang dan kerusakan jaringan lunak.

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur (Wilkinson, 2006) meliputi

  1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas
  2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.
  3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.
  4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
  5. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
  6. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.

About unnda4774

Ramah, baeK hati, tiDak soOmbong & Rajiin menaBungg,,, huahahahahaaaa...^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: